Minggu, 09 Agustus 2009

Shadow in da Morning

Bismillahirrahmanirrahim...
Alhamdulillah, Allah beri aku kesempatan menghirup udara di pagi hari ini.. Alhamdulillah..
Pagi tadi aku pergi k sabuga.. sudah lama gak olahraga.. asli kerasa .. rasanya badan semakin membesar.. hehe.. ekitar pukul 6.30 aku berangkat bersamasahabat sekaligus saudaraku inonk!
Lagi asyik jalan+ngobrol.. tiba2 kami tertegun.. hanya bisa berkata.. Suhanallah..
Subhanallah.. kejadian luar biasa terjadi tepat di depan kita..
Saat itu kami melihat dua orang pahlawan tangguh, pahlawan sebenarnya, kalau boleh saya juluki beliaulah mujahid..
Seorang kakek tua renta, terlihat rapuh dari luar..dengan semangat, memikul beban kerajang besar berisi tapai dibantu seorang temannya.. tebak, apakah temannya masih muda? absolutely not.. mereka dua orang kakek tangguh.. Subhanallah.. terbersit dalam hati dimana anak2 kakek itu? kenapa harus kakek yang berjuang di usianya yang tak lagi muda.. alasan dan pertanyaan bergulir silih berganti dalam benakku.. mungkinkah kakek itu tak mau menjadi beban bagi keluarganya, atau kah memang kakek lah satu2nya tumpuan hidup keluarga? berapa keuntungan per harinya? cukupkah untuk makan?
HHhhh malu.. malu rasanya.. Betapa kuatnya semangat sang kakek sampai mengalahkan kerut renta tubuhnya, sedangkan aku.. yang jauh lebih muda terlalu sering mengeluh atas limpahan rezeki yang telah Dia berikan, terlalu sering lupa untuk bersyukur,lupa bahwa aku ada yang memiliki dan kelak kembali pada pemiliknya.. Astghfirullah..
Seuntai doa untuk sang kakek, semoga Allah berkahi tiap tetes keringatnya, Allah jadikan setiap gerak dan langkanya menjadi amal perjuangan di jalanNya,semoga, semoga Allah menyertai tiap pengorbanannya..Maha Suci Allah,yang tak pernah sedikitpun lupa mengurus makhlukNya..
"Semangat kakek!" dari seorang pengaggummu..

All I want is You..



Bismillah...
3 menit menuju hari esok.. tepat pukul 23.57 saat itu..
Rindu..
Sudah beberapa pekan bahkan bulan aku merasa sendiri..
Sibuk dengan kegiatanku dan bergelut dalam duniaku
ku sisihkan waktu untukMu -sesaat- betapa bodohnya aku!
Bukankan seharusnya hariku milikMu?
Bukankah seharusnya aku tidak menyisihkan waktuku untukMU, melainkan memberikan seluruh cinta dan hidupku hanya untukMu?
betapa bodohnya aku..


Kemelut itu kembali datang, disambut badai gundah dalam hatiku, lagi-lagi aku salah..
aku menduakanMu.. Maha Suci Engkau, Engkau masih mengingatkanku.. bahkan menutup aibku..

Malu..

Aku datang padaMu dengan setumpuk masalah -tinggi menjulang- dan sudah pasti, aku merasa tak sanggup memecahkannya..
padahal kunci itu telah Kau simpan tepat dihadapanku, entah kenapa, aku tak menyadarinya sedikitpun.. tertutupkah hatiku??
betapa lancangnya aku.. menghampiriMu saat aku merasa sedih, tapi tidak di saat gembira..

Peluk..
lagi-lagi.. untuk kesekian kalinya..
Kau sama sekali tidak bosan mendengarkanku, keluh kesah, masalah, dan bahagia tapi tak pernah sedikitpun Kau menolak mendengar ceritaku, cerita yang sebagian besar adalah keluhan dan keluhan..
Sedikitpun Kau tidak menjauh, Kau tidak berpaling, Kau tidak memotong critaku..
Kau malah tawarkan pelukMu..

Rabb,, aku hanya hambamu yang kecil -tak berdaya- bahkan menjijikkan jika Kau membuka aibku..
Rabb jangan kau tutup hati ini, karena hanya dengan hati ini aku bisa mengenalmu, dan mencintaimu.. tegur aku, tegur aku dikala aku salah.. tolong.. jangan Kau biarkan aku menjauh dariMu..

Sungguh diri ini rindu saat-saat itu..
saat ku selalu menginginkanMu..

Kamis, 26 Februari 2009

Kemelut Sistem Pendidikan Indonesia

Kemelut Sistem Pendidikan Indonesia

Oleh : Rachmi Latifah

Indonesia sebagai negara yang besar sudah selayaknya mengedepankan pendidikan bagi rakyatnya. Mencetak generasi yang unggul merupakan kewajiban ,jika negara ini ingin maju dan tak mau lagi dianggap negara ‘berkembang’. Upaya pemerintah dengan menjanjikan kenaikan tunjangan bagi guru mungkin salah satu cara yang ditempuh agar guru semakin giat dan bersemangat untuk mencetak generasi yang lebih baik.Sertifikasi menjadi salah satu syarat bagi guru yang ingin mendapat kenaikan tunjangan ini. Namun sangat disayangkan program serifikasi seakan menjadi jalan pintas bagi para guru yang dinilai kurang berkompeten. Mengapa? Tentu bisa ditebak, unsur kecurangan selalu terjadi dimana-mana begitupun urusan sertifikasi. Tak hanya itu, janji pemerintah untuk menganggarkan 20% APBN tak kunjung terwujud, rakyat terlanjur kecewa dengan sikap pemerintah yang selalu membohongi mereka. Sekarang yang menjadi harapan adalah, semoga pemerintah tergugah hatinya melihat buruknya pendidikan di Indonesia.

Pernah suatu ketika seorang guru bercerita bahwa beliau sangat kecewa, karena beliau gagal lulus dalam sertifikasi guru. “Saya kecewa, kok saya bisa ngga lulus, padahal waktu ngerjain tes kita kerjakan bareng-bareng lo! Tapi kok hasilnya beda?” ujarnya santai.

Hal tersebut merupakan gambaran kecil betapa bobroknya sistem pendidikan Indonesia. Guru yang menjadi anutan tidak sepantasnya melakukan hal yang biasa mereka larang untuk dilakukan para siswanya. Maka tak heran bila banyak siswa yang kurang menghargai gurunya. Mungkin salah satu sebabnya (maaf) karena guru sudah tak layak lagi untuk dijadikan contoh. Miris memang, namun itulah kisah nyata yang tengah terjadi di dunia pendidikan kita.

Seharusnya sebagai tenaga pendidik, guru berkewajiban untuk mengamalkan ilmunya serta menjadi tauladan bagi para muridnya. Namun mengamalkan ilmu ternyata bukan hal yang mudah bagi para guru yang tidak memenuhi kualifikasi sebagai tenaga pengajar yang baik. Guru yang baik adalah guru yang tidak mematikan potensi siswanya, guru yang justru mengembangkan pola pikir siswa agar lebih kritis sertamampu menanamkan dimensi moral,spiritual, emosional dan intelektual yang baik. Guru yang baik adalah guru yang juga memberikan teladan bagi siswanya.

Qualified Teacher atau guru berkualitas dihasilkan dari sebuah proses yang tidak mudah, perlu perjuangan serta kejujuran. Bakal calon guru sudah semestinya diperoleh dari proses seleksi yang ketat tidak asal-asalan juga tidak ada unsur keterpaksaan . Sertifikasi sebagai langkah pemerintah untuk menghargai kinerja guru berkualitas bukan justru dijadikan kesempatan dalam kesempitan. Ada saja oknum yang menodai itikad baik pemerintah ini baik dari pihak penyelenggara –dalam hal ini pemerintah- maupun dari kalangan peserta sendiri.

Lalu langkah apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan kemelut pendidikan Indonesia yang tak kunjung selesai ini? hal yang mungkin dilakukan disaat pemerintahan belum juga memihak pada pendidikan yaitu tenaga pengajar mencoba melakukan yang terbaik untuk mendidik para muridnya. Jalani kewajiban dengan penuh rasa tanggung jawab dan keikhlasan. Mulailah untuk meperbaiki hal-hal itu dari diri kita sendiri, dari hal yang kecil dan mulai saat ini-aa Gym-. Mungkin terlalu teoritis memang namun langkah itulah yang menurut saya baik dilakukan.

Bukan berrti saya berpihak pada pemerintah, karena bagaimanapun hal ini terjadi karena kesalahan sistem. Pemerintah pastinya turut andil dalam hancurnya pendidikan Indonesia. Pemerintah yang seharusnya mendukung terbentuknya sebuah sistem pendidikan yang baik masih saja enggan untuk mengeluarkan 20% APBN untuk pendidikan. Yang justru dari dana sebesar itu diharapkan tak perlu lagi ada keluarga yang pusing memikirkan iuran sekolah yang belum dibayar, tak perlu lagi ada anak Indonesia yang putus sekolah, tak perlu lagi anak-anak enggan ke sekolah karena buruknya infrastruktur seperti toilet,tak perlu lagi ada guru yang pontang-panting mencari pekerjaan sampingan mempertahankan asap dapurnya mengepul, dan tak perlu-tak perlu lainnya.

Yang dibutuhkan sekarang bukan hanya pendidikan yang baik namun pemerintah yang juga benar-benar terdidik. Terdidik untuk peka dengan rakyatnya, bukan hanya peka dengan perut sendiri. Pemerintah, dimana hati nuranimu? Tidak tahukah kalian bahwa masih banyak anak Indonesia putus sekolah, masih banyak guru menderita dan harus berhutang kesana-kemari untuk bertahan hidup. Kami ingin pendidikan yang baik, pendidikan yang benar-benar memanusiakan manusia bukan pendidikan yang hanya menambah permasalahan hidup.

Wallahua’lam

Kamis, 19 Februari 2009

Journey




Rahasia


kuberi tahu satu rahasia padamu, kawan


buah paling manis dari berani bermimpi


adalah kejadian-kejadian menakjubkan


dalam perjalanan menggapainya


-Andrea Hirata-




It's about a journey of my life..


kadang kita tak menyadari apa makna perjalanan hidup..


itu pula yang sering terjadi pada saya..


mendapatkan apa yang kita cintai tak ubahnya seperti mengharap kemunculan dadu bermata empat dari sekian kemungkinan.


namun mencintai apa yang kita miliki adalah keniscayaan.


"Kita tahu apa yang kita inginkan tapi kita tak tahu apa yang kita butuhkan, sedangkan Ia tahu apa yang kita butuhkan", pastinya kalimat ini sering didengar, namun terkadang saya lupa, lupa dengan kepastian jaminan dari-Nya. Astaghfirullah..


Tahukah kau kawan? saya tengah berjuang, berjuang mencintai-Nya, mencintai apa yang Ia berikan atas perjalanan hidup saya.

dan saya percaya, kelak saya menemukan apa yang Ia simpan untuk kehidupan saya.

Let' enjoy our Journey!