Kamis, 26 Februari 2009

Kemelut Sistem Pendidikan Indonesia

Kemelut Sistem Pendidikan Indonesia

Oleh : Rachmi Latifah

Indonesia sebagai negara yang besar sudah selayaknya mengedepankan pendidikan bagi rakyatnya. Mencetak generasi yang unggul merupakan kewajiban ,jika negara ini ingin maju dan tak mau lagi dianggap negara ‘berkembang’. Upaya pemerintah dengan menjanjikan kenaikan tunjangan bagi guru mungkin salah satu cara yang ditempuh agar guru semakin giat dan bersemangat untuk mencetak generasi yang lebih baik.Sertifikasi menjadi salah satu syarat bagi guru yang ingin mendapat kenaikan tunjangan ini. Namun sangat disayangkan program serifikasi seakan menjadi jalan pintas bagi para guru yang dinilai kurang berkompeten. Mengapa? Tentu bisa ditebak, unsur kecurangan selalu terjadi dimana-mana begitupun urusan sertifikasi. Tak hanya itu, janji pemerintah untuk menganggarkan 20% APBN tak kunjung terwujud, rakyat terlanjur kecewa dengan sikap pemerintah yang selalu membohongi mereka. Sekarang yang menjadi harapan adalah, semoga pemerintah tergugah hatinya melihat buruknya pendidikan di Indonesia.

Pernah suatu ketika seorang guru bercerita bahwa beliau sangat kecewa, karena beliau gagal lulus dalam sertifikasi guru. “Saya kecewa, kok saya bisa ngga lulus, padahal waktu ngerjain tes kita kerjakan bareng-bareng lo! Tapi kok hasilnya beda?” ujarnya santai.

Hal tersebut merupakan gambaran kecil betapa bobroknya sistem pendidikan Indonesia. Guru yang menjadi anutan tidak sepantasnya melakukan hal yang biasa mereka larang untuk dilakukan para siswanya. Maka tak heran bila banyak siswa yang kurang menghargai gurunya. Mungkin salah satu sebabnya (maaf) karena guru sudah tak layak lagi untuk dijadikan contoh. Miris memang, namun itulah kisah nyata yang tengah terjadi di dunia pendidikan kita.

Seharusnya sebagai tenaga pendidik, guru berkewajiban untuk mengamalkan ilmunya serta menjadi tauladan bagi para muridnya. Namun mengamalkan ilmu ternyata bukan hal yang mudah bagi para guru yang tidak memenuhi kualifikasi sebagai tenaga pengajar yang baik. Guru yang baik adalah guru yang tidak mematikan potensi siswanya, guru yang justru mengembangkan pola pikir siswa agar lebih kritis sertamampu menanamkan dimensi moral,spiritual, emosional dan intelektual yang baik. Guru yang baik adalah guru yang juga memberikan teladan bagi siswanya.

Qualified Teacher atau guru berkualitas dihasilkan dari sebuah proses yang tidak mudah, perlu perjuangan serta kejujuran. Bakal calon guru sudah semestinya diperoleh dari proses seleksi yang ketat tidak asal-asalan juga tidak ada unsur keterpaksaan . Sertifikasi sebagai langkah pemerintah untuk menghargai kinerja guru berkualitas bukan justru dijadikan kesempatan dalam kesempitan. Ada saja oknum yang menodai itikad baik pemerintah ini baik dari pihak penyelenggara –dalam hal ini pemerintah- maupun dari kalangan peserta sendiri.

Lalu langkah apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan kemelut pendidikan Indonesia yang tak kunjung selesai ini? hal yang mungkin dilakukan disaat pemerintahan belum juga memihak pada pendidikan yaitu tenaga pengajar mencoba melakukan yang terbaik untuk mendidik para muridnya. Jalani kewajiban dengan penuh rasa tanggung jawab dan keikhlasan. Mulailah untuk meperbaiki hal-hal itu dari diri kita sendiri, dari hal yang kecil dan mulai saat ini-aa Gym-. Mungkin terlalu teoritis memang namun langkah itulah yang menurut saya baik dilakukan.

Bukan berrti saya berpihak pada pemerintah, karena bagaimanapun hal ini terjadi karena kesalahan sistem. Pemerintah pastinya turut andil dalam hancurnya pendidikan Indonesia. Pemerintah yang seharusnya mendukung terbentuknya sebuah sistem pendidikan yang baik masih saja enggan untuk mengeluarkan 20% APBN untuk pendidikan. Yang justru dari dana sebesar itu diharapkan tak perlu lagi ada keluarga yang pusing memikirkan iuran sekolah yang belum dibayar, tak perlu lagi ada anak Indonesia yang putus sekolah, tak perlu lagi anak-anak enggan ke sekolah karena buruknya infrastruktur seperti toilet,tak perlu lagi ada guru yang pontang-panting mencari pekerjaan sampingan mempertahankan asap dapurnya mengepul, dan tak perlu-tak perlu lainnya.

Yang dibutuhkan sekarang bukan hanya pendidikan yang baik namun pemerintah yang juga benar-benar terdidik. Terdidik untuk peka dengan rakyatnya, bukan hanya peka dengan perut sendiri. Pemerintah, dimana hati nuranimu? Tidak tahukah kalian bahwa masih banyak anak Indonesia putus sekolah, masih banyak guru menderita dan harus berhutang kesana-kemari untuk bertahan hidup. Kami ingin pendidikan yang baik, pendidikan yang benar-benar memanusiakan manusia bukan pendidikan yang hanya menambah permasalahan hidup.

Wallahua’lam

0 komentar:

Posting Komentar